How To Be a Great Journalist

Mei 5, 2018 oleh : superadmin-kpi

 

Pada hari Jumat, 04 Mei 2018, Himpunan Mahasiswa Jurusan, Komunikasi Penyiaran Islam (HMJ KPI) menyuguhkan suasana baru dengan menghadirkan kegiatan workshop jurnalistik yang diselenggarakan di Ruang Sidang FAI UMY, Gedung F6. Kegiatan tersebut dimulai dari open gate hingga penyampaian materi mulai dari pukul 07.00 sampai 11.30 WIB. Workshop jurnalistik ini merupakan bagian dari rangkaian acara ICC fair, dimana kegiatan ini diisi oleh Annisa Widayanti, SPT atau yang sering dipanggil dengan sebutan mbak Icha.

“Sebagai generasi muda, bahwa ranah peradaban manusia ada di pundak-pundak kalian, ada di tangan-tangan kalian. Jangan hanyut pada hiburan semata. Memang nafsu manusia akan selalu mengajak pada yang indah-indah, yang keren-keren, yang ganteng-genteng, yang cantik-cantik, tapi jangan sampai meninggalkan prinsip Islam,” ujar mbak Icha mengawali kegiatan workhsop.  

Definisi reporter adalah seseorang yang mencari, mengumpulkan, dan menyeleksi data dan atau pendapat menjadi sebuah berita. Nilai berita itu sendiri memiliki persyaratan, yakni: aktual, faktual, human interest, kedekatan, dan keterkenalan. Dalam penyampaian materinya mbk Ica mengungkapkan bahwasannya reporter masa kini yang harus dipersiapkan adalah kontennya atau isi laporannya dan kemampuan publick speaking. Dimana publick speaking itu sendiri meliputi rasa percaya diri, intonasi, kalimat yang jelas, dan performenc. Selain itu, ada beberapa variasi penyajian reportase, yaitu: reportase pandangan mata/live moving, vo/sot, wawancara langsung, umbbrella system, dan one on one. Seorang reportase juga harus memiliki kepribadian: jujur, selalu ingin tahu, kritis, komunikatif, dan rendah hati. Kemudian untuk nilai berita itu sendiri meliputi: aktual, faktual, human interest, kedekatan, dan keterkenalan.

Bagaimana menjadi jurnalis yangt keren? Di generasi Z ini, modis semacam propaganda, yakni semacam pengaruh yang dibuat oleh kelompok yang berpengaruh. Untuk menjadi jurnalis yang keren, mbak Icha mengungkapkan bahwa, tidak perlu berpenampila terbuka dalam arti lain membuka aurat, berpakaian ketat, dan bermakeup yang tabaruj. Menjadi jurnalis yang keren yakni jurnalis yang istiqomah, mentaati perintah agama, faham dengan agama. Karena untuk menjadi keren, menjadi modis bukan diukur dari modis di depan manusia, keren di mata manusia, melainkan modis dan keren di depan Allah SWT, dengan cara tidak menyimpang ajaran maupun aturan agama. Agar tidak terjerumus dalam dunia yang salah, mbak Icha mengungkapkan bahwa, “Kita harus sadar, untuk apa kita dilahirkan di dunia ini, dari manakah  kita, dan akan kemanakah kita nantinya. Kalau tujuan hidupnya bukan untuk ibadah, ujung-ujungnya galau. Contonya seperti cerita artis Korea yang gantung diri. Populer dapat, cantik, ganteng dapat, eh karena gak ngerti hidupnya untuk apa, imannya gak kuat, setan masuk, “ah kok hanya gini aja?” padahal udah dapat semua, akhirnya galau, gantung diri,” Jelas mbak Ica. (FM/SR)