Sabtu, (29/09/2018) tim relawan psikososial dari MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Center) kirimkan tim ke lokasi terdampak. Tepatnya di Sembalun, Rendang Lor, Lombok Timur dan Desa Dangiang, Lombok Utara. Lokasi ini merupakan daerah yang paling dekat dengan titik bencana. Salah satu tim relawan psikososial yang terjun langsung ke lokasi terdampak adalah mahasiswa aktif KPI FAI UMY (Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta) angkatan tahun 2016.

Pemberangkatan tiga mahasiswa KPI ke lokasi bencana, murni kegiatan dari luar kampus. Dari pihak kaprodi khususnya, tidak mengirimkan ketiga mahasiswa ini, tetapi mereka aktif mengikuti kegiatan di luar kampus. Pemberangkatan tim psikososial ke Lombok Timur dan Lombok Utara atas permintaan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Yogyakarta, yang diikuti oleh Fatimah Alawiyah Azzahro dan Zakiya Mediana Sabila. Sedangkan untuk pemberangkatan tim sar DIY ke Palu, pada tanggal (04/10/2018) diikuti oleh Usman Wiliyudin.

“Ini adalah kesempatan mereka untuk belajar di dunia nyata dan relawan juga harus kuat nilai-nilai ke-humantarian-nya dan kemanusiaannya,” Jelas Ibu Twediana Budi Habsari, S. Sos., M. Si., Ph. D. Selaku kaprodi KPI FAI UMY.

Dalam pemberangkatan tim, tidak sembarang orang dapat terjun ke lokasi bencana. Sebelum pemberangkatan, relawan harus mengikuti 4 hari screening. Hal ini dilakukan untuk membentuk fisik dan mental para relawan. Pada saat ini tercatat bahwa kondisi di Lomok dilanda penyakit malaria. Sedang untuk medan menuju Palu terbilang sulit. Perjalanan dari Makasar menuju Palu kurang lebih 100 km dengan waktu 24 jam. Dalam proses pengiriman bantuan khususnya, memerlukan kawal dari polisi dikarenakan banyak jarah sebelum sampai di Palu.

Pada saat ini, kondisi masyarakat terdampak di Lombok Timur telah mengalami perkembangan. Beberapa masyarakat terdampak sudah memulai bekerja dan menjalankan aktivitasnya seperti sedia kala. Namun masih terdapat beberapa warga yang trauma, anak-anak yang tidak mau sekolah, anak-anak yang masih sulit diajak bermain, dan orang tua yang masih takut pulang ke ruamhnya. Sedangkan keadaan di Lombok Utara masih terasa duka. Hal ini disebabkan karena bangunan runtuh 100%. Maka dari itu, tugas utama tim psikososial yakni untuk melakukan rehabilitas dan rekonsiliasi terhadap masyarakat terdampak. Beberapa progres kerja yang dilakukan tim yakni mengajatr TPA, sekolah ceria, penyuluhan kesehatan, lomba untuk anak-anka, dan taman bacaan.

Berbeda dengan lokasi di Lombok yang sudah mulai ada pemulihan, untuk saat ini lokasi di Palu masih cukup memprihatinkan. “Kondisi di sini kurang memungkinkan, soalnya listrik di daerah pengungsian Palu masih terbatas,” ungkap Usman Wiliyudin KPI 2016 selaku tim sar di Palu ketika dimintai keterangan kondisi Palu oleh tim media MDMC.

“Sangat luar biasa ketika hal yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan menjadi bagian dari becana alam, banyak-banyak bersyukur, menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi saya,” ungkap Zakiya Mediana Sabila KPI 2016 selaku tim relawan psikososial di Lombok Utara.

“Kalau negeri sedang dilanda masalah dan musibah, nah kita sebagai manusai, tugas manusia berbuat kemanusiaan aja, jangan sampai jadi mahasiswa yang terkurung di kampus aja,” pesan Fatimah Alawiyah Azzahro KPI 2016 selaku tim relawan psikososial di Lombok Timur. (Fikri. SR)